Atasi Segera Penyakit Sampar yang Menyerang Ternak dan Manusia

Penyakit Sampar

Penyakit Sampar – Penyakit sampar atau dikenal juga dengan pes, merupakan penyakit pada binatang yang disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis. Atau Y.Pestis dan dapat ditularkan pada manusia.

Bakteri Y.Pestis sendiri hidup di tubuh kutu yang menempel pada hewan, terutama tikus. Melalui kutu tersebut, pes ditularkan dari hewan ke hewan, bahkan kepada manusia melalui gigitan.

Bakteri Y.Pestis pertama kali ditemukan oleh Alexander Y Ersin, seorang bakteriologi asal Perancis-Swiss. Mulanya penyakit ini pernah menjadi epidemi di wilayah Eropa pada tahun 1347-1351, dan telah menewaskan 75 juta jiwa penduduk dunia. Termasuk diantaranya adalah 2/3 penduduk Eropa, hingga peristiwa tersebut dikenal mendunia dengan nama “The Black Death”.

Wabah pes menyerang dengan 3 jenis wabah mematikan, yaitu Bubonik, Pneumonik, dan Septikemik. bang mana ketiganya menargetkan kerusakan pada sistem limfa tubuh. Sehingga menyebabkan pembesaran kelenjar, deman, pusing, muntah dan nyeri di persendian.

Parahnya, wabah Pneumonik juga menimbulkan batuk lendir berdarah, dan wabah Septikemik dapat mengalami perubahan warna kulit menjadi merah lembayung.  Tidak hanya itu, karena ketiga wabah itu, wabah pes bisa disebut juga dengan black death karena tingkat kematiannya yang datang dengan cepat dan tinggi saat menyerang manusia.

Tingkat kematian tersebut bervariasi dari 30-75% kematian untuk wabah Bubonik, 90-95% kematian bagi wabah Pneumonik dan 100% kematian bagi Septikemik.

Khusus di Indonesia, penyakit sampar masih dalam pemantauan dan digolongkan sebagai penyakit menular berbahaya. Pentakit  dilaporkan pada Dinas Kesehatan dengan batas waktu maksimal 24 jam sejak didiagnosis positif terserang.

Tentang Penyakit Sampar yang Wajib Diketahui

Penyakit Sampar

Penyebabnya

Wabah ini disebarkan melalui gigitan kutu yang hidup pada tubuh hewan, merupakan penyakit mematikan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Y.Pestis dan dapat juga menyerang manusia.

Penyakit ini bisa menular dari hewan ke manusia melalui luka gigitan atau tinja yang sudah terinfeksi pes, namun sangat jarang ditularkan dari manusia ke manusia kecuali untuk wabah Pneumonia, karena bisa disebarkan melalui batuk.

Ciri khas dari bakteri Y.Pestis adalah bentuknya yang berupa batang gemuk berujung bulat dengan badan cembung, berukuran 1,5 µm × 5,7 µm dan merupakan kelompok family Enterobacteriaceace, genus Y esinieae. Serta disebut sebagai penyakit Zoonosis karena menyerang hewan pengerat.

Faktor utama penyebaran penyakit sampar adalah kutu atau pinjal tikus, yang bisa dibawanya sampai berbulan-bulan. Lalu pada saat kutu menghisap darah hewan yang sebelumnya sudah terserang pes, maka bakteri masuk ke lambung kutu dan membelah diri, dan seterusnya kutu menularkan bakteri pada hewan-hewan lain melalui gigitannya.

Metode Pengobatan

Demi mengobati pasien yang positif terserang penyakit sampar, maka alternatif pengobatannya bisa diberikan obat antibiotik. Pemberian antibiotik ini dapat dilakukan tergantung dari keadaan klinis penderita dan diagnosis lain. Terkhusus untuk kasus berat seperti wabah Septikemik dan Pneumonik, maka bisa diberikan antibiotik berupa Streptomicyn.

Streptomicyn yang diberikan bisa dengan dosis 300mg/kgBB/hari untuk orang dewasa dan diberikan secara intramuscular dengan membagi dosis 2-4 kali/hari. Akan tetapi, jika penderita mengalami keadaan rejatan, maka pemberian antibiotik dengan intramuscular tidak akan diserap dengan baik oleh tubuh dan dibutuhkan cara lain.

Menyembuhkan Penyakit Sampar dengan Streptomicyn

Sementara, untuk mencegah terjadinya autotoksik pada pasien, maka pemberian Streptomicyn bisa dilakukan tidak lebih dari 7 hari.  Jika dalam kurun waktu 7 hari, pengobatan masih tidak cukup dan terlalu singkat. Maka pengobatan penyakit sampar bisa dilanjutkan dengan pemberian Tetrasiklin selama 10-14 hari, dimulai pada hari ke-4.

Tetrasiklin sendiri merupakan obat pilihan ke dua setelah Streptomicyn, yang bisa berupa Tetrasiklin HCL, OksiTetrasiklin atau KlorTetrasiklin. Dosis pemberian untuk obat kedua  dimulai dengan 15mg/kgBB dengan maksimum 1 gram secara oral. Lalu diikuti pada 24 jam pertama dengan dosis 40-50 mg/kg/BB yang terbagi dalam 4 kali pemberian pada pasien.

Selanjutnya, dosis diturunkan menjadi 30 mg/kg/BB/hari dalam 4 kali pemberian, dan terus dilanjutkan sampai 10-14 hari pengobatan. Namun, jika pemberian antibiotik ini dibarengi dengan obat lain, maka dosis Tetrasiklin bisa diturunkan dari 30mg/kgBB/hari dengan 4 kali pemberian.

Akan tetapi, pemberian Tetrasiklin memiliki kontraindikasi adanya gangguan fatal ginjal, gangguan kehamilan dan tidak boleh untuk anak dibawah usia 8 tahun. Serta, selama dalam pengobatan penyakit sampar dengan pemberian Tetrasiklin ini, tidak dianjurkan dikonsumsi bersama minuman susu dan antasid.

Menyembuhkan Penyakit Sampar dengan Kloramfenikol

Ada juga obat pilihan lain untuk mengatasi penyakit ini, yaitu Kloramfenikol yang merupakan obat dengan hasil baik selama proses penyembuhan, meskipun ditakuti karena efeknya yang menekan sumsum tulang. Pemberian Klorafenikol biasanya diberikan terutama kepada penderita-penderita berat yang tidak bisa diberikan Streptomicyn karena berpotensi meninggal lebih tinggi.

Dosis yang ditakar untuk pemberian obat ini adalah 50-75mg/kgBB/hari, yang diberikan secara intravena, dibagi sebanyak 4 kali pemberian dan berlangsung selama 10 hari. Pemberian obat ini juga bisa diberikan secara oral dengan dosis sama.

Selain dari obat-obat di atas, ada Trimetoprin-Sulfametoksazol sebagai alternatif lain dengan hasil yang cukup baik, apabila obat-obat lainnya terindikasi tidak bisa diberikan. Sementara obat Sulfadazin dapat pula diberikan dan merupakan obat yang efektif untuk mengobati penyakit sampar apabila tidak tersedia obat-obat lainnya.

Dosis yang ditakarkan untuk Sulfadazin bisa diberikan sebanyak 1-2 gram/hari selama 4-7 hari untuk kasus ringan. Sedangkan untuk kasus berat maka pemberian obat ini bisa dimulai dengan dosis 4 gram. Lalu dilanjutkan 2 gram pemberian setiap 1 jam sampai suhu tubuh pasien yang mengalami demam kembali normal.

Pemberian obat ini selanjutnya masih diberikan setiap 4 jam sebanyak 500mg selama 7-10 hari kemudian. Selama penggunaan obat ini, maka pemberiannya harus disertai Sodium Bikarbonat. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan kalori bisa dilakukan secara parenteral jika tidak bisa dilakukan secara oral.

Serta, apabila wabah sampar menyerang anak-anak, maka metode pengobatannya bisa dilakukan serupa dengan metode pengobatan untuk orang dewasa, yaitu pemberian Streptomicyn untuk sampar tipe Bubonik dengan dosis 20-30mg/kgBB/hari yang dibagi setiap 12 jam.

Sementara untuk sampar tipe Septikemik dan magnitis biasanya dapat diobati dengan obat Kloramfenikol secara intravena dengan dosis 100mg/kgBB/hari yang diberikan setiap 6 jam. Lalu untuk penyakit dengan kondisi ringan bisa diobati dengan Tetrasiklin yang diberikan secara oral khusus untuk anak berusia di atas 10 tahun.

Metode Pencegahan Penyebaran Penyakit Sampar

Terdapat beberapa metode untuk menanggulangi penyebaran wabah sampar yang terjadi pada manusia. Diantaranya dengan diberikan vaksinasi untuk yang belum terserang, isolasi untuk orang yang diduga terserang dan Post Exposure Prophylaxis (PEP) untuk orang-orang yang berisiko terjangkit sampar.

Vaksinasi

Pemberian Antigen Y.Pestis memiliki struktur yang dibedakan ke dalam beberapa fraksi, yaitu fraksi 1 yang merupakan Envelope substance, fraksi II, V, W, L dan lainnya berupa Polisakarida spesifik.

Vaksin ini tersedia dalam bentuk Inactivated Vaccine (Haffkines Vaccine) dengan dosis untuk orang dewasa 0,5 mL dan diteruskan dengan 1 mL setelah 10-28 haru pemberian. Lalu khusus untuk daerah endemik, pemberian vaksin dapat diteruskan dengan pemberian dosis 0,5 mL setiap 6 bulan.

Isolasi

Isolasi diberikan pada orang yang diduga terjangkit sampar. Terutama jika penyakit yang diderita diduga wabah Pneumonik yang dapat menular melalui batuk dan pernafasan. Sampai terbukti kebenarannya.

Sementara untuk pasien yang diduga menderita sampar tipe Bubonik yang telah mengalami drainase. Maka harus dijaga agar buang tinja tidak sembarangan atau bercampur dengan lain, karena banyak mengandung kuman.

Post Exposure Prophylaxis (PEP)

Pemberian PEP, ditunjukkan untuk orang-orang yang memiliki risiko terserang sampar. Karena banyaknya kontak langsung dengan cairan atau jaringan tubuh pasien yang terinfeksi bakteri. Atau terlalu dekat dengan penderita wabah Pneumonik, seperti perawat, dokter atau keluarga pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *